• Dewa Arya Putra

Kabuki, Pertunjukan Teater Jepang Klasik

Diantara kalian adakah yang menyukai pertunjukan wayang orang? Atau pertunjukan ludruk maupun ketoprak? Kalau ada, mungkin kalian akan menyukai pertunjukan yang satu ini, namanya pertunjukan Kabuki. Bedanya dari ludurk, ketoprak, dan wayang orang adalah tidak selalu berunsur komedi. Tetapi ada 1 jenis pertunjukan Kabuki yang membawa unsur komedi yang bernama Kabuki Kyōgen.

Pentas Kabuki (sc: Joanna/Flick)

Baca Juga: Ohaguro, Bentuk Kecantikan Gigi Masyarakat Jepang Zaman Dulu


Jika dilihat dari 3 huruf kanjinya yaitu 歌 (uta, musik), 舞 (mai, tarian), dan 伎 (ki, teknik), Kabuki (歌舞伎) merupakan pertunjukan teater tradisional asal Jepang yang terkenal akan pertunjukan yang dipenuhi dengan nyanyian serta tariannya. Kementrian Pendidikan Jepang telah menetapkan, bahwa Kabuki merupakan Warisan Agung Budaya Nonbendawi (warisan budaya tak-benda). Begitu pula dengan UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, Dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa) telah menetapkan pertunjukan Kabuki sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan Dan Nonbendawi Manusia.

Make up salah satu aktor Kabuki (sc: Matthias Harbers/Flickr)

Baca Juga:

Tsumekaki Hon Tsuzure Ori, Teknik Tenun Tradisional Jepang Menggunakan Kuku Jari


Sejarah pertunjukan Kabuki ini dimulai sejak tahun 1603 dengan pertunjukan drama tari yang dibawakan oleh seorang Miko (gadis kuil) yang bernama Okuni dari kuil Izuma Taisha. Sebagai seorang miko, Okuni tentu saja mempelajari teknik-teknik tarian yang digunakan khusus untuk upacara-upacara yang ada di kuil tersebut. Kemudian suatu hari, kuil Izumo sangat memperlukan dana untuk memperbaiki kuil itu sendiri. Maka dari itu, Okuni berkeliling ke segala tempat mementaskan tarian-tarian yang sudah dia pelajari untuk mendapatkan dana. Okuni membawakan tariannya dengan sangat baik yang kemudian mendadak menjadi populer pada waktu itu. Akibatnya banyak bermunculan kelompok kabuki imitasi.

Aktor Kabuki (sc: Greg Gladman/Flickr)

Baca Juga: Cha No Yu, Tradisi Upacara Minum Teh Di Jepang


Pada waktu itu ada sekelompok wanita penghibur (geisha) yang memainkan kabuki, mereka menyebutnya dengan sebutan Onna-kabuki (kabuki wanita), sedangkan kabuki yang dibawakan oleh remaja laki-laki disebut Wakashu-kabuki. Akan tetapi menurut Shogun Tokugawa (Kepemimpinan Jepang pada masa Edo) menilai Onna-kabuki sudah melewati batas moral karena banyak mengalami pelecehan dan malah lebih populer dengan prostitusi dan tarian yang sensual. Maka dari itu Onna-kabuki dilarang dipentaskan sejak tahun 1629. Begitu pula dengan Wakashu-kabuki yang memiliki pelacuran terselubung, sehingga pada tahun 1632 dilarang pentas lagi.

Para pengisi BGM di pentas Kabuki (sc: davegolden/Flcikr)

Baca Juga: Shamisen, “Gitar” Tradisionalnya Jepang


Sebagai gantinya 2 kabuki tersebut. dibuatlah kabuki yang seluruh pemainnya adalah pria dewasa. Kabuki itu bernama Yarou-kabuki (野郎歌舞伎). Aktor Yarou-kabuki bahkan memainkan peran sebagai wanita yang kemudian melahirkan sebuah konsep baru dalam dunia estetik. Pertunjukan Yarou-kabuki terus berkembang sampai dengan sekarang,

(by: Dewa Arya - Tsubomi House TLC)

Check our Instagram

Jangan Lewatkan Penawaran Menarik Dari Kami.

Berlangganan Newsletter Sekarang Juga.

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
© 2020 by Tsubomi House

Our Office:

Jalan Graha Gunung Anyar Tambak No. 37,

Gunung Anyar Tambak, Surabaya 60294
Office: 0812-3836-4722

Courses: 0878-7583-8289

Email. tsubomihousetlc@gmail.com