top of page

Sistem Kepercayaan di Cina

Konfusianisme, Taoisme, dan Buddha adalah pilar dasar untuk hidup bermasyarakat di Cina, khususnya Cina kuno. "Tiga pilar" tersebut memiliki pengaruh besar tidak hanya dalam mentalitas dan spiritualitas saja, akan tetapi dalam ilmu pengetahuan, seni, bahkan hingga pemerintahan. Meskipun ketiganya memiliki pemahaman dan kepercayaan yang saling berlawanan satu sama lain, akan tetapi ketiganya dapat dengan leluasa untuk bertumpang tindih satu sama lain daripada menggantikan satu sama lain.


Konfusianisme

Konfusianisme digagas oleh Konfusius ( - Kǒng Fūzǐ, Master Kong - diartikan Konfusius) yang hidup pada 551-479 sebelum masehi. Konfusius merupakan seorang filsuf dan tokoh politik yang hidup pada zaman ketika prinsip tradisional Cina sudah mulai memudar, sehingga Konfusius berinisiatif untuk membenahi Cina dengan cara menuliskan pedoman untuk hidup dan bermasyarakat yang ia ambil dari aturan agama.

Konfusius menganggap bahwa dasar kehidupan adalah untuk memenuhi kewajiban antar sesama, baik itu manusia maupun 'entitas', sehingga paham Konfusianisme lebih fokus pada aspek humanis (Ren Dao) melalui doktrin "Perlakukan yang lain sebagaimana dirimu ingin diperlakukan". Selain itu, Konfusius juga menganggap bahwa dengan memenuhi peran dan kewajiban kita dengan cara saling menghormati serta berbuat baik akan membuat negara semakin kuat.

Beberapa orang mungkin lebih setuju apabila Konfusianisme dikatakan sebagai filsafat daripada agama karena lebih menitikberatkan pada aspek dunia daripada akhirat, ditambah lagi Konfusius bukanlah Zat yang disembah oleh para penganut Konfusianisme. Akan tetapi, Konfusius hanya menyempurnakan agama yang sudah ada dan menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Konfusius dalam agama Konfusianisme (dalam Indonesia disebut Konghucu) dianggap sebagai nabi besar, karena dalam Konfusianisme itu sendiri, manusia tidak pernah dapat mengerti sepenuhnya tentang hakikat sejati atau gambaran Tian (Tuhan) yang sudah ada terlebih dahulu.


Taoisme

Taoisme (atau Daoisme) merupakan agama yang berkembang tidak terlalu lama setelah Konfusianisme muncul. Berkebalikan dari Konfusianisme, Taoisme lebih mengedepankan aspek akhirat daripada dunia dengan mempelajari sifat alam semesta. Taoisme, sesuai dengan namanya (道 - Dao atau Tao, jalan) menggunakan 'tatanan semesta' sebagai panduan untuk hidup. Maksudnya, Taoisme mempercayai bahwa segala sesuatu di alam semesta seperti hidup-mati, terjadi-tidak terjadi, serta ketidaksengajaan merupakan sebuah 'aturan', 'tatanan', atau 'jalan' (Tao) dari alam itu sendiri, sehingga manusia sebagai bagian dari alam harus menerima dan berserah diri kepada Tao. Pemikiran tersebut kemudian dinamakan dengan konsep Wu wei.

Dao, Dou, Jalan. (Sc: Pribadi)

Konsep Wu wei yang dianut oleh agama Taoisme itulah yang membuat Taoisme Berkebalikan dengan Konfusianisme. Taoisme tidak ikut campur dalam urusan moralitas manusia, pemerintahan, dan hubungan antar sesama, karena hal-hal tersebut merupakan penemuan manusia, bukan termasuk dari Tao itu sendiri. Akan tetapi, para penganut Tao lebih tertarik pada cara untuk memperpanjang usia manusia, karena mencapai keabadian secara spiritual dengan cara menjadi satu dengan alam merupakan hal yang sangat penting dalam Taoisme. Hal ini yang kemudian menyebabkan Taoisme memiliki pengaruh sangat besar dalam ilmu pengetahuan di Cina, khususnya ilmu pengetahuan tentang obat-obatan.


Buddha

Agama Buddha digagas oleh Siddhartha Gautama dari India pada abad ke-6 sebelum masehi. Ajaran agama Buddha memiliki fokus untuk mengembangkan diri sendiri serta menggali pengetahuan yang dalam. Para penganut agama Buddha mencari pencerahan yang dapat diraih melalui meditasi, mempelajari spiritualitas, serta berbuat kebajikan kepada alam. Penganut agama Buddha percaya pada reinkarnasi dan paham yang menyatakan bahwa hidup merupakan penderitaan, sehingga untuk menghindari hal tersebut, seseorang harus berusaha sekuat mungkin untuk mencapai nirwana, dimana di dalamnya hanya ada kedamaian.

Setelah didirikan di India, agama Buddha menyebar dan menjadi terkenal di Cina pada abad ke-1 masehi. Salah satu alasan mengapa agama Buddha begitu populer di Cina adalah karena beberapa ajaran Buddha yang memiliki kesamaan dengan Taoisme, sehingga para pertapa Buddha menggunakan konsep Taoisme untuk menjelaskan Buddha kepada orang Cina untuk melompati dinding penghalang berupa bahasa dan budaya, baik Cina maupun India. Setelah agama Buddha berkembang menjadi semakin populer dan relevan, konsep-konsep di dalamnya kemudian bergabung dan melebur dengan konsep Taoisme dan Konfusianisme yang menjadi dasar kehidupan masyarakat dan pemerintah Cina kuno.



Pemikiran dan nilai yang terkandung dalam Konfusianisme, Taoisme, dan Buddha masih digunakan oleh Cina hingga saat ini, meskipun ketiganya memiliki perbedaan tersendiri. Akan tetapi, ketiga kepercayaan tersebut memiliki satu pemahaman yang sama, yaitu untuk berbuat kebaikan kepada alam dan sekitar untuk mencapai kedamaian serta memperkuat tatanan sosial.

Dari tulisan ini kita belajar bahwa hidup bersama dalam harmoni meskipun berbeda merupakan sebuah karunia dari Surga kepada kita, sehingga kita harus menjaganya. Apakah pembaca juga berpikir demikian? Kita memerlukan komunikasi untuk menjaga harmonitas tersebut... Dan tentunya agar menghindari salah paham. Bahasa merupakan alat komunikasi yang pasti digunakan oleh manusia, oleh karena itu tidak ada salahnya apabila pembaca untuk ikut les di Tsubomi House. Kami tidak hanya menawarkan les bahasa Jepang, akan tetapi juga Mandarin, Inggris, Arab, serta bahasa Indonesia untuk ekspatriat.


Penulis: Daffa Ramadhan



Comentários


Check our Instagram

bottom of page