• Dewa Arya Putra

Mari Kita Mengenal 7 Jenis Puisi Jepang

Setiap negara memiliki taste yang unik dalam membuat karya sastranya. Mungkin akibat dari budaya maupun kebiasaan yang mereka lakukan di masing-masing negara itu sendiri. Tidak luput negara Jepang tentunya. Tidak jauh berbeda dengan Indonesia, Jepang juga memiliki karya sastra puisi lho. Ragam puisi Jepang sendiri terbagi menjadi 7 berikut penjelasannya:


1. Waka

Waka adalah bentuk awal mula puisi di Jepang. Dalam puisi waka ini sendiri terdiri dari 31 suku kata, dengan kata lain pembagiannya adalah 5, 7, 5, 7, 7. Kata-kata yang digunakan pun umumnya mencerminkan ciri, ekspresi rasa dan pemikiran orang Jepang. Kemudian ada 3 buku/kumpulan puisi waka yang dibuat pada zaman itu. 3 kumpulan puisi tersebut adalah Manyoshu yang ada pada zaman Nara, Kokinshu pada zaman Heian, Shinkokinshu pada zaman Kamakura.

Waka Kakinomoto no Hitomaro (sc: halfrain/Flickr)

2. Haikai

Haikai adalah bentuk puisi Jepang bergenre jenaka. Di dalam Kokinshu juga terdapat puisi jenaka sebanyak 58 buah.


Baca Juga: Oshiya, Salah Satu Pekerjaan Unik Yang Ada Di Jepang

Haikai (sc: Phoebe Baker/Flickr)

3. Haiku

Haiku merupakan puisi yang terdiri dari 1 bait dengan pembagian suku kata 5, 7, 5. Sekitar tahun 2000an pada era Meiji, diadakan pembaharuan tentang karya sastra puisi Jepang oleh orang yang bernama Masaoka Shiki. Dia beranggapan bahwa bait 1 dari waka dengan komposisi tersebut bisa dijadikan sebuah puisi baru yang disebut haiku.

Salah satu puisi dari Manyoshu

4. Kyoka

Ada sedikit perbedaan antara Kyoka dan Waka, yaitu penggunaan bahasa yang benar-benar bebas. Bisa dikatakan penggunaan kata-katanya kurang sopan karena mereka membuatnya dengan gaya mereka sendiri. Kyoka berada di posisi puncak ketenarannya pada zaman Tenmei (1781-1789) berkat pedagang-pedagang dari Osaka.


Baca Juga: 6 Kata Bahasa Jepang Yang Sulit Diartikan Ke Bahasa Indonesia

Two Kyoka poets; Kinkosha Karomichi; Fukujuso (sc: Ashley Van Haeften/Flickr)

5. Renga

Konsep dari puisi renga adalah dari 1 orang penulis puisi selesai menuliskan baitnya, kemudian penulis lainnya menuliskan kelanjutan dari puisi tersebut dengan tema yang sama dari penulis pertama. Singkatnya adalah 2 orang penyair yang menyatukan ide mereka menjadi sebuah puisi yang disebut sebagai renga.

Puisi dari Ibaraki Noriko yang ada di Stasiun Osaka (sc: midorisyu/Flickr)

6. Senryu

Senryu kurang lebih sama dengan haiku hanya saja tidak terlalu serius. Maksudnya puisi senryu bisa dipakai untuk mengekspresikan diri secara santai dengan tujuan menghibur sedangkan haiku adalah puisi yang elit nan serius. Isi bait dari puisi senryu terkadang bisa menjadi sebuah lawakan karena tidak ada aturan yang kompleks dalam membuat puisi ini.


Baca Juga: Ōkunoshima, Pulau Yang Dipenuhi Dengan Ratusan Ekor Kelinci

Senyru (sc: d's 2nd/Flickr)

7. Kindai Shi (Puisi Modern)

Puisi modern Jepang ini berbentuk sebuah syair hasil dari serapan budaya barat yang masuk pada zaman Meiji (1882). Sejak itu puisi Jepang benar-benar berubah. Baik dari segi jumlah suku kata, baris/bait sudah tidak terikat oleh ketentuan seperti yang ada di Waka maupun Haiku. Pada tahun 1889 muncul syair baru yang memiliki genre romantis berjudul Omokage (bayangan hati) yang sebenarnya syair dari Inggris dan Jerman kemudian diterjemahkan dalam bahasa Jepang.

(by: Dewa Arya - Tsubomi House TLC)

Check our Instagram

Jangan Lewatkan Penawaran Menarik Dari Kami.

Berlangganan Newsletter Sekarang Juga.

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
© 2020 by Tsubomi House

Our Office:

Jl. Wisma Tirta Agung Asri II / 108,

Gunung Anyar Tambak, Surabaya 60294
Office: 0812-3836-4722

Courses: 0878-7583-8289

Email. tsubomihousetlc@gmail.com