top of page

Industri Malam Host Club dalam Perspektif Perempuan Jepang


Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki kekuatan ekonomi kuat. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya industri yang buka di Jepang, antara lain manufaktur otomotif, transportasi, real estate, perbankan, bahkan tambang dan minyak. Akan tetapi, ada suatu sektor industri yang muncul dalam di tengah-tengah kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang, meskipun agak tabu untuk dibicarakan. Sektor industri tersebut adalah industri malam yang disebut sebagai Mizu Shobai (水書売).

Mungkin kita akan mengartikan Mizu Shobai atau industri malam sebagai prostitusi. Akan tetapi, Mizu Shobai adalah industri malam yang hanya menyediakan jasa companionship kepada tamunya, bukan jasa memenuhi hasrat seksual, sehingga berbeda dengan industri prostitusi. Mizu Shobai sendiri menjadi salah satu bentuk budaya di Jepang sebagai tempat untuk bekerja dan “bermain” untuk melarikan diri sementara dari tekanan dan aturan sosial sehari-hari. Mizu Shobai yang paling populer adalah Hostess Club dan Host Club.



Hostess Club menyediakan jasa companionship dengan cara pekerja (hostess - perempuan) yang berparas cantik menemani pelanggan (pria) sambil berbincang-bincang dan minum-minum. Rata-rata pelanggan Hostess Club adalah pekerja kantoran menengah keatas yang ekonominya meningkat. Pertanyaannya, mengapa pelanggannya adalah mereka yang memiliki kemampuan ekonomi yang kuat? Karena biaya sewa companionship dan minum-minum di Hostess Club sangat mahal. Seseorang bisa menghabiskan ¥20.000 dalam satu kali berkunjung. Terkadang, Hostess Club juga dijadikan oleh beberapa perusahaan sebagai untuk melakukan bisnis, seperti menjamu klien bisnis untuk meningkatkan ikatan bisnis antar perusahaan.

Sama seperti Hostess Club, Host Club kemudian muncul pada tahun 1965 sebagai tempat dimana pekerjanya (host - pria) menyediakan companionship kepada pelanggannya (perempuan) dengan tujuan agar perempuan bisa kabur dari kekangan sosial. Meskipun pada awal kemunculannya Host Club hanyalah tempat untuk berdansa (dance hall), akan tetapi setiap perempuan yang pergi ke Host Club atau bahkan berada di Kabukicho sendirian akan dicap sebagai perempuan yang tidak baik, karena mereka yang kebanyakan menjadi pelanggan di Host Club adalah fuzokujo (pekerja seks komersial) atau Mama-san (wanita pengelola Hostess Club), sebab penghasilan mereka pada umumnya lebih banyak dari pekerja malam lainnya.

Sejak puncak bubble economy pada tahun 1980, stigma buruk mengenai Host Club mulai berkurang karena menimbulkan rasa penasaran sebagai tempat yang melayani perempuan. Akan tetapi, pada tahun 1990-an kondisi ekonomi Jepang sangat menurun, sehingga jumlah pekerja perempuan meningkat dan disaat yang bersamaan banyak Host Club yang melakukan promosi di TV, sehingga perempuan memiliki lebih banyak kesempatan untuk pergi ke Host Club. Salah satu alasan perempuan di Jepang pergi ke Host Club adalah karena mereka dituntut agar menjadi ryosai kenbo (istri yang baik dan ibu yang bijaksana). Paradigma masyarakat Jepang dulu menganggap bahwa laki-laki tempatnya berada di luar (kerja, soto), sementara perempuan tempatnya adalah di dalam rumah (mengurus rumah tangga, uchi) yang dapat terlihat dari Sexual division of labor. Sexual division of labor atau pembagian kerja berdasarkan gender berisi tentang pandangan jika laki-laki mencari nafkah di luar rumah dan perempuan mengurus rumah dan anak. Dari pembagian kerja berdasarkan gender tersebut berkembang ideologi motherhood (keibuan) tentang bagaimana seseorang memandang para ibu, bagaimana para ibu diekspektasikan menjalani hidup dan menghadapi pengalaman dalam menjadi ibu, juga untuk menjadi istri yang sempurna, baik memiliki pekerjaan di luar atau tidak.

Perempuan yang pergi ke Host Club mengaku bahwa Host Club memiliki banyak efek dalam hidupnya. Diantaranya mengaku bahwa mereka dapat dengan bebas menceritakan kisah hidupnya tanpa peduli status dan peran mereka sehari-hari, seperti contohnya fuzokujo yang dianggap sebagai pekerjaan rendahan di masyarakat. Meskipun ada keinginan untuk berhenti, akan tetapi tidak bisa karena harus menghidupi kebutuhan sehari-hari dan tergiur oleh pendapatan yang tinggi. Ada pula yang mengaku bahwa dengan pergi ke Host Club mereka dapat merasakan pertukaran peran perempuan dari yang “di bawah” menjadi “di atas”, atau dari yang "memberi" menjadi "diberi". Di Host Club, para perempuan dapat memerintah para host untuk menuangkan sake, menyalakan rokok, dan lain sebagainya, sebab pada kehidupan sehari-hari, posisi mereka sebagai perempuan adalah melayani bukan dilayani. Lainnya ada yang mengaku bahwa pergi ke Host Club dapat mengembalikkan jati diri mereka, karena setelah menikah suami mereka tidak lagi menunjukkan ketertarikan seperti dulu, ditambah lagi tetangga di daerah kediaman memanggil dengan nama “Nyonya Tuan A”, bukan nama sendiri. Di Host Club, para Host sangat memperhatikan penampilan mereka, membanjiri mereka dengan perhatian dan pujian, dan memberikan dukungan emosional yang tidak mereka dapatkan di rumah.

Meskipun yang dilakukan oleh para Host mungkin bersifat tatemae dan hanya melakukan apa yang diinginkan (atau didengarkan) oleh kliennya, akan tetapi selain menjadi tempat bagi para perempuan untuk bersenang-senang, melepas stres, mencari seseorang untuk bercerita, dan sebagainya, perempuan yang pergi ke Host Club mengaku bahwa sepulang dari Host Club, mereka merasa sangat bersemangat dan menjadi produktif dalam bekerja. Tidak hanya itu, beberapa perempuan juga mengaku bahwa mereka menjadi lebih memperhatikan tatanan busana mereka karena komentar dari para Host membuat mereka termotivasi untuk berusaha tampil cantik dengan hadirnya seseorang yang peduli dengan mereka. Menyadari daya tarik perempuan dalam dirinya (joshiryoku) membantu meningkatkan percaya diri dalam banyak hal. Berkat Host Club, mereka merasakan energi positif yang membuat hidupnya lebih menyenangkan dan berharga.



Dari tulisan di atas dapat kita simpulkan bahwa Host Club dapat menjadi tempat bagi para perempuan di Jepang untuk melakukan perlawanan (atau setidaknya lari sementara) dari paradigma orang Jepang yang sangat patriarki. Apakah ada pembaca yang menjadi tertarik dan penasaran dengan Host Club? Tidak ada salahnya sebelum mengunjungi Host Club untuk belajar bahasa Jepang terlebih dahulu, karena para host tampan di Host Club seperti orang Jepang pada umumnya, belum banyak yang dapat berbicara bahasa Inggris. Lebih lengkapnya bisa dicek disini.


Ditulis berdasarkan penelitian Lydia Natasha Soetanto dengan judul “Perubahan Stereotip Gender Perempuan dalam Perannya Sebagai Pelanggan Host Club di Jepang”.


Penulis: Daffa Ramadhan

Supervisor: Lydia Natasha Soetanto


Comments


Check our Instagram

bottom of page