top of page

MAHARAJĀN AL-JANĀDRĪYAH : FESTIVAL NASIONAL DI ARAB SAUDI BERTEMAKAN JENDELA KE MASA LALU


Maharajān Al-Janādrīyah (مهرجان الجنادرية‎) atau dalam bahasa Indonesia disebut Festival Janadriyah merupakan salah satu festival budaya tradisonal terbesar yang di selenggarakan di Riyadh, Saudi Arabia. Festival ini juga sering disebut sebagai Festival Warisan Budaya, serta telah diselenggarakan sejak 24 Maret 1985. Untuk pertama kalinya, festival ini diresmikan oleh mendiang Raja Fahd bin Abdul Aziz Al-Saud. Sejak saat itu, Festival Janadriyah selalu diadakan ketika musim semi, sekitar bulan Februari atau Maret. Hal ini sangat menarik para wisatawan dari dalam ataupun luar Saudi Arabia. Selama 34 tahun, Festival Janadriyah digelar di bawah pengawasan Menteri Pertahanan Nasional. Kemudian sejak tahun 2018, festival ini diambil alih oleh Menteri Kebudayaan karena mereka manambahkan unsur warisan budaya atau barang peninggalan yang mereka simpan lebih dari 50 tahun dalam bentuk pameran.



Dengan diselenggarakannya Festival Janadriyah, ada beberapa tujuan yang ingin dicapai setiap tahunnya. Berikut adalah 8 (delapan) tujuan dari Festival Janadriyah.

  1. Menekankan kembali nilai-nilai agama dan sosial dalam sejarah agar mengembalikan tradisi ‘lembut’ yang dibawa oleh agama islam;

  2. Menemukan benang merah atau keterkaitan hubungan dari cerita rakyat di Saudi Arabia dengan perkembangan peradaban yang terjadi di Saudi Arabia hingga saat ini;

  3. Menghilangkan persoalan ‘hilang kreativitas’ dalam sastra dan seni populer dengan melihat warisan budaya;

  4. Mendorong penemuan atau gagasan untuk karya sastra dan seni dengan melihat karya yang sudah sukses;

  5. Menarik minat masyarakat pada cerita rakyat agar bisa merawat, melindungi, dan melestarikannya bersama;

  6. Menyempurnakan nilai-nilai cerita rakyat dengan memberikan wadah masyarakat untuk merealisasikan imajinasi dalam warna seni dan sastra;

  7. Mendorong penelitian tentang manfaat atau hal positif dari kesabaran, tanggung jawab, dan kemandirian yang sering diangkat dalam cerita rakyat;

  8. Menceritakan kembali warisan, seni, sastra, dan budaya masa lalu melalui role-playing agar masyarakat bisa memiliki gambaran jelas mengenai itu.


Karena 8 tujuan di atas, karya yang ditampilkan dalam Festival Janadriyah terdiri dari karya-karya lama hingga terbaru. Oleh karena itu, Festival ini dianggap sebagai ‘Jendela ke masa lalu yang semarak’. Festival ini merupakan persimpangan jalan di mana puisi, kecerdasan, budaya, seni, teater, serta warisan sejarah bertemu.

Ketika festival ini berlangsung, akan ada banyak pasar di luar tembok kerajaan tempat diselenggarakannya festival. Karena festival ini merupakan pertemuan seniman dan pengrajin dari hampir semua provinsi di Saudi Arabia, pengunjung bisa menmukan banyak barang antik, ornamen indah, dan barang dekorasi yang terbuat dari kaca. Festival ini menjadi wadah bagi penjual dari seluruh negeri untuk memajang dan menjual produk mereka yang kebanyakan merupakan kerjainan tangan. Selain kerajinan tangan, di pasar ini juga akan banyak ditemukan rempah-rempah aromatik, dan uap kopi yang tercium dari gang-gang di sekitar pasar.



Selain pasar, pengunjung juga akan banyak menemui unta yang didandani dengan unik dan cantik. Beberapa unta dipelihara dan dibesarkan untuk diikutkan dalam acara lomba balap unta di festival ini, dan ada juga yang hanya dijadikan hiasan saja. Kemudian, pengunjung juga bisa melihat cara pengairan tradisional di Saudi Arabia yang menggunakan bantuan unta atau keledai. Irigasi tradisional ini bisa menjadi pengalaman baru untuk masyarakat sekarang yang belum pernah melihat itu sebelumnya. Dengan adanya Festival Janadriyah, masyarakat sekarang bisa melihat masa lalu melalui ‘jendela’ yang meriah megah ini.


Pergi ke Arab Saudi tentunya tidak hanya untuk haji atau umroh saja, ya. Kita juga dapat melakukan berbagai macam wisata dan mencicipi berbagai kuliner khas Arab Saudi. Menarik, bukan? Tapi tidak ada salahnya loh untuk les bahasa Arab di Tsubomi House terlebih dahulu sebelum pergi ke Arab supaya tidak terlalu bingung, sekaligus dapat berinteraksi dengan masyarakat di sana.


Penulis: Vidya Surya Indah

Editor: Daffa Ramadhan


Comments


Check our Instagram

bottom of page